Tak Perlu Cemas Soal Tarif Trump

0
202
Presiden Amerika Serikat Donald Trump

BarisanBerita.com,- Di tengah skeptisme soal penerapan tarif dagang era Presiden Amerika Serikat Donald Trump, ada nada optimis dari Indonesia agar menyambut tantangan baru tersebut dengan lebih percaya diri.

Adalah Wakil Presiden Indonesia ke-10 dan 12 Jusuf Kalla yang memproyeksikan kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan menetapkan tarif resiprokal 32% kepada Indonesia tak akan memberikan dampak besar. Menurut dia, kenaikan tarif tersebut hanya akan berdampak berupa kenaikan 10% harga barang impor asal Indonesia saat dibeli konsumen di Amerika Serikat.

Misalnya, kata dia, harga impor sepatu dari Indonesia ke AS dipatok US$15 hingga US$20 per pasang. Sementara, harga jualnya di Negeri Paman Sam pada rentang US$50 hingga US$70 per pasang.

Menurut dia, tarif resiprokal dihitung berdasarkan harga impor yaitu maksimal US$20 dikalikan 32% hasilnya adalah US$6,4 sen. Kenaikan angka tersebut hanya sekitar 10% dari harga jual sepatu di Amerika yang selama ini mencapai US$70.

“Siapa yang bayar [kenaikan tarif resiprokal] semua ini? Yang bayar itu konsumen dan pengusaha AS. Jadi efeknya tidak segegap-gempita apa yang dikenakan,” ujar Jusuf Kalla dalam video pemberitaan, Sabtu (05/04/2025).

Selain itu, dia menilai, penetapan tarif timbal balik ini tak akan mengganggu kegiatan impor Indonesia ke Amerika Serikat. Dia optimis, masyarakat Amerika tetap akan membeli barang-barang dari Indonesia karena memang menjadi kebutuhan harian; mulai dari sepatu, pakaian, sabun, hingga bahan dasar seperti minyak kelapa sawit.

Jusuf Kalla menilai, posisi Indonesia sebagai eksportir komoditas tetap strategis.

Sinyal positif juga dilontarkan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) yang menyebut Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump 2.0 berpotensi memiliki dampak positif terhadap ekonomi Indonesia, tetapi dengan beberapa syarat.

Mengutip laporan Rekomendasi DEN Antisipasi Pengumuman Resiprokal Tarif AS yang terbit pada 2 April 2025, disebutkan dampak kebijakan tarif Trump berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 0,8%, dengan syarat terjadi peningkatan investasi di Tanah Air.

“PDB Indonesia berpotensi positif hingga 0,8% poin, namun dengan syarat terjadi peningkatan investasi (menangkap relokasi) melalui perbaikan iklim investasi sesuai dengan hasil simulasi,” tulis rekomendasi DEN dalam laporan tersebut, dikutip Minggu (6/5).

Caranya meningkatkan investasi, pemerintah harus mampu menarik perusahaan-perusahaan agar mau pindah ke Indonesia. Menurut DEN, Indonesia jangan sampai kehilangan momentum tidak mendapatkan manfaat besar dari potensi realokasi sebagaimana pengalaman Trump pada periode pertama menjabat sebagai presiden AS.

DEN menyebut, dampak kebijakan tarif Trump akan lebih positif lagi apabila kinerja ekspor bisa ditahan tidak tumbuh negatif, melalui diversifikasi mitra dagang.

Meski demikian, DEN mendorong agar pemerintah mempersiapkan secara rinci langkah antisipatif dan negosiasi dengan AS terhadap berbagai kemungkinan penerapan resiprokal tarif ke Indonesia.

“Tim lintas K/L mempelajari dengan rinci tarif yang dikenakan oleh AS dan pertimbangannya, serta mempersiapkan respon dari Indonesia,” tulis laporan tersebut.

Sementara, Menurut Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menjelaskan pengenaan tarif baru ini ini akan berdampak signifikan terhadap Indonesia. Namun, pemerintah saat ini tengah menghitung dampak pengenaan tarif baru terhadap sektor-sektor tersebut, hingga ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

“Pengenaan tarif resiprokal AS ini akan memberikan dampak signifikan terhadap daya saing ekspor Indonesia ke AS. Selama ini produk ekspor utama Indonesia di pasar AS antara lain adalah elektronik, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, palm oil, karet, furniture, udang dan produk-produk perikanan laut,” kata Susiwijono, dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (04/04/2025).

Hal sama juga diatakan ekonom INDEF Eisha Maghfiruha Rachbini. Ia menjelaskan penerapan tarif pada produk-produk ekspor Indonesia ke AS, akan berdampak secara langsung pada penurunan ekspor Indonesia ke AS secara signifikan seperti tekstil, alas kaki, elektronik, furnitur, serta produk pertanian dan perkebunan, seperti minyak kelapa sawit, karet, perikanan.

“Secara teori, dengan adanya penerapan tarif, maka akan terjadi trade diversion dari pasar yang berbiaya rendah ke pasar yang berbiaya tinggi. Sehingga akan berdampak pada biaya yang tinggi bagi pelaku ekspor untuk komoditas unggulan dan melambatnya produksi, dan lapangan pekerjaan,” ungkap Eisha dalam keterangannya.

(BBS/Bobby)