BarisanBerita.com,- Sampai hari ini sejumlah orang nampaknya belum bisa melepas sakit hati pada pria bernama Joko Widodo atau Jokowi. Entah benar disakiti langsung atau sekedar terganggu lantaran jagoannya tak menang dalam lagi presiden tahun lalu. Belum ada yang terus terang hingga kini.
Salah satu aksi benci yang beraroma “pengulangan” adalah diungkitnya keaslian ijazah S1 Jokowi. Beruntung pihak UGM yang menerbitkan tanda kelulusan Jokowi bertindak cepat dengan menyatakan Jokowi asli lulus dari universitas negeri itu.
Namun, dari banyak hujatan hingga fitnah, nampanya inti dari aksi mereka ini adalah “menjegal” sang mantan presiden itu agar tak lagi disukai masyarakat. Pasalnya, jelang dirinya usai berdinas, tingkat kepuasan masyarakat pada jokowi memang tak main-main. Pria asal Solo ini meraih hampir 80 persen rasa puas dari mayarakat.
Lalu apakah ada korelasi antara kepuasan dengan sakit hati para pembencinya? Ada, mereka yang membencinya tak ingin pengaruh Jokowi terus berkibar hingga waktu tak terbatas. Apalagi mereka melihat mantan anak buah Megawati itu punya kepentingan terkait anaknya yang menjadi Wakil Presiden. Jokowi dianggap akan terus melestarikan trahnya di lingkaran kekuasaan saat ini.
Untuk itu, nampaknya perlu “obat sadar diri” bagi para pembenci Jokowi untuk lebih cerdas saat melontarkan kebenciannya pada mantan RI 1 tersebut, dengan tidak lagi membuat bising dan berujung pada pembodohan yang ujungnya kemudian ditertawakan.
Masyarakat saat ini udah terlalu cerdas dan paham soal hoax atau fakta, sehingga tak mudah disulut api kebencian pada seseorang yang kemudian berujung mengacaukan negeri ini.
Sekali lagi untuk mereka yang membenci Jokowi, sebaiknya banyak istirahat dan kaji ulang langkah untuk merontokan kredibilitas sosok tersebut, walau sepertinya hal itu akan sia-sia karena masih banyak orang bersimpati pada Jokowi.
Redaksi





















